agroforesry

Rabu, 22 Januari 2014

I.                PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sistem bertani secara tradisional pada umumnya menggunakan kombinasi antara pohon, tanaman pertanian dan ternak, dimana orientasi hasil adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup. Input dari luar sistem tersebut dapat dikatakan tidak ada, dengan kata lain bahwa input berasal dari sistem itu sendiri. Sistem yang demikian itu banyak dikenal dengan sistem pertanian subsisten. Penggunaan lahan dengan menggunakan kombinasi pohon dan tanaman pertanian (pertanian subsisten) telah banyak diusahakan sejak pada zaman dahulu baik di negara temperate maupun tropik.
Pertambahan penduduk merupakan hal yang tidak dapat dielakkan dan disisi lain keberadaan lahan tidak mengalami penambahan, sehingga tekanan terhadap lahan untuk mendukung keperluan manusia semakin tinggi. Kemajuan pada bidang industri sudah barang tentu akan mengurangi lahan-lahan pertanian yang relatif subur yaitu dengan mengubahnya untuk keperluan pendirian pabrik, sarana dan prasarananya. Oleh karena itu sasaran utama guna mendukung keperluan manusia, disamping intensifikasi lahan pertanian adalah penggunaan lahan hutan dan lahan marginal untuk menghasilkan produksi pertanian. Pada kondisi yang demikian itu penerapan sistem agroforestry tidak dapat dihindari. Menurut Nair (1992) banyak faktor yang mendorng tercapai kesepakatan untuk menerima agroforestry secara umum sebagai salah satu sistem pengelolaan lahan yang dapat digunakan pada usaha pertanian maupun kehutanan. 
            Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Sistem ini telah dipraktekkan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad (Michon dan de Foresta, 1995), misalnya sistem ladang berpindah, kebun campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan. Contoh lain yang umum dijumpai di Jawa adalah mosaik-mosaik padat dari hamparan persawahan dan tegalan produktif yang diselang-selingi oleh rerumpunan pohon. Sebagian dari rerumpunan pohon tersebut mempunyai struktur yang mendekati hutan alam dengan beraneka-ragam spesies tanaman.
Dalam sistem agroforestri terdapat interaksi ekologis dan ekonomis antara komponen-komponen yang berbeda. Agroforestri ditujukan untuk memaksimalkan penggunaan energi matahari, meminimalkan hilangnya unsur hara di dalam sistem, mengoptimalkan efesiensi penggunaan air dan meminimalkan runoff serta erosi. Dengan demikian mempertahankan manfaat-manfaat yang dapat diberikan oleh tumbuhan berkayu tahunan (perennial) setara dengan tanaman pertanian kon- vensional dan juga memaksimalkan keuntungan keseluruhan yang dihasilkan dari lahan sekaligus mengkonservasi dan menjaganya.

B.    Maksud dan Tujuan
-        Mengetahui perngertian agroforesti dalam peranannya untuk mempertahankan keanekaragaman
-        Mengetahui lebih dalam sistem-sistem dalam agroforesti
-        Mengetahui apa yang dimaksud sistem silvikultur






                                                





II.              TINJAUAN PUSTAKA

Agroforestri adalah sistem penggunaan lahan (usahatani) yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan. Pada sistem ini, terciptalah keanekaragaman tanaman dalam suatu luasan lahan sehingga akan mengurangi resiko kegagalan dan melindungi tanah dari erosi serta mengurangi kebutuhan pupuk atau zat hara dari luar kebun karena adanya daur ulang sisa tanaman.
Direktur ICRAF (K.F.S. King) mendefinisikan agroforestri sebagai suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan produksi tanaman pertanian (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan tanaman hutan dan atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yang sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat (King dan Chandler, 1978 dalam Affandi 2002).
Selanjutnya King menyebutkan beberapa bentuk Agroforestri, seperti :
-        Agrisilviculture, yaitu penggunaan lahan secara sadar dan dengan pertimbangan yang masak untuk memprodusi sekaligus hasil - hasil pertanian dan kehutanan.
-        Sylvopastoral systems, yaitu sistem pegelolaan lahan hutan untuk menghasilkan kayu dan untuk memelihara ternak.
-        Agrosylvo-pastoral systems, yaitu sistem pengelolaan lahan hutan untuk memprodusi hasil pertanian dan kehutanan secara bersamaan, dan sekaligus untuk memelihara hewan ternak.
-        Multipurpose forest tree production systems, yaitu sistem pengelolaan dan penanaman berbagai jenis kayu, yang tidak hanya untuk hasil kayunya. Akan tetapi juga daun-daunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan manusia ataupun pakan ternak.


Menurut De Foresta et al. (1997), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu :
-        Agroforestri Sederhana
Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian di mana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.
http://2.bp.blogspot.com/-6_7d_hYSLOI/UHiiI9rH2eI/AAAAAAAABeQ/mKfMYNaKg2A/s400/agroforestri-sederhana-1.jpg
Gambar: sistem agroforestry sederhana
Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacangkacangan, ubi kayu, sayur-mayur dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.
Bentuk agroforestri sederhana yang paling banyak dibahas di Jawa adalah tumpangsari. Sistem ini, dalam versi Indonesia, dikenal dengan “taungya” yang diwajibkan di areal hutan jati di Jawa dan dikembangkan dalam rangka program perhutanan sosial dari Perum Perhutani. Pada lahan tersebut petani diijinkan untuk menanam tanaman semusim di antara pohon-pohon jati muda. Hasil tanaman semusim diambil oleh petani, namun petani tidak diperbolehkan menebang atau merusak pohon jati dan semua pohon tetap menjadi milik Perum Perhutani. Bila pohon telah menjadi dewasa, tidak ada lagi pemaduan dengan tanaman semusim karena adanya masalah naungan dari pohon. Jenis pohon yang ditanam khusus untuk menghasilkan kayu bahan bangunan (timber) saja, sehingga akhirnya terjadi  perubahan pola tanam dari sistem tumpangsari menjadi perkebunan jati monokultur. Sistem sederhana tersebut sering menjadi penciri umum pada pertanian komersial.
Dalam perkembangannya, sistem agroforestri sederhana ini juga merupakan campuran dari beberapa jenis pepohonan tanpa adanya tanaman semusim. Sebagai contoh, kebun kopi biasanya disisipi dengan tanaman dadap (Erythrina) atau kelorwono disebut juga gamal (Gliricidia) sebagai tanaman naungan dan penyubur tanah. Contoh tumpangsari lain yang umum dijumpai di daerah Ngantang, Malang adalah menanam kopi pada hutan pinus.
Bentuk agroforestri sederhana ini juga bisa dijumpai pada sistem pertanian tradisional. Pada daerah yang kurang padat penduduknya, bentuk ini timbul sebagai salah satu upaya petani dalam mengintensifkan penggunaan lahan karena adanya kendala alam, misalnya tanah rawa. Sebagai contoh, kelapa ditanam secara tumpangsari dengan padi sawah di tanah rawa di pantai Sumatera.

-        Sistem Agroforestri Kompleks
Sistem agroforestri kompleks adalah suatu sistem pertanian menetap yang berisi banyak jenis tanaman (berbasis pohon) yang ditanam dan  dirawat dengan pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini tercakup beraneka jenis komponen seperti pepohonan, perdu, tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak. Kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai agroforesti.
Sistem agroforestri kompleks dibedakan menjadi dua, yaitu (a) pekarangan berbasis pepohonan dan (b) agroforest kompleks. Pekarangan biasanya terletak disekitar tempat tinggal, luasnya terbatas (sekitar 0.1 – 0.3 ha) dan sistem ini lebih mudah dibedakan dengan hutan. Contoh: kebun talun, karang kitri dsb. Agroforestri kompleks, merupakan hutan masif yang merupakan mosaik (gabungan) dari beberapa kebun berukuran 1 - 2 ha milik perorangan atau berkelompok, letaknya jauh dari tempat tinggal bahkan terletak pada perbatasan desa, dan biasanya tidak dikelola secara intensif. Contoh: kebun karet, kebun damar dan sebagainya.
-        Pengertian Silvikultur
Sedangkan silvikultur atau budidaya hutan adalah salah satu bentuk pengusahaan lahan hutan. Dalam silvikultur, tanaman komoditas kehutanan dipelihara secara semi-intensif untuk kelak diambil hasilnya. Hasil silvikultur dapat berupa kayu maupun hasil lainnya yang bernilai ekonomi, seperti getah (damar atau cairan lain), pepagan, potongan kayu, rempah-rempah dalam bentuk bunga atau buah, atau madu hutan.
Berbeda dari hortikultura (harafiah berarti "budidaya pekarangan") yang dipelihara secara intensif dan biasanya ditanam di sekitar tempat pengolahan, silvikultur biasanya cenderung dibiarkan dan tempat pengusahaan dapat jauh dari tempat pengolahan.
Silvikultur adalah ilmu dan seni membangun dan memelihara hutan lewat pengetahuan dasar silvika. Silvika adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari sifat-sifat ekologi individu pohon.  Silvika menjadi landasan bagi tindakan silvikultur terhadap hutan.  Tindakan silvikultur tersebut dengan harapan  agar hutan yang bersangkutan dapat memenuhi tujuan khusus yang telah dirancang dan disepakati untuk dilaksanakan.  Dalam merancang tindakan silvikultur, ahli silvikultur mempertimbangkan atribut ekologi, ekonomi, sosial dan administrasi serta manfaat yang ingin dicapai agar hutan berfungsi secara lestari dan optimal.
Silvikultur juga sering dinamakan ekologi terapan.  Penamaan tersebut atas dasar bahwa tindakan silvikultur merupakan perwujudan pengelolaan ekosistem.  Dalam kaitan ini mudah dimengerti bila tindakan silvikultur berkaitan dengan upaya mengendalian struktur, komposisi, pertumbuhan species target untuk meningkatkan manfaat hutan. Tindakan silvikultur bertujuan untuk meningkatkan produktivitas hutan, sehingga hutan yang produktivitasnya rendah menjadi hutan yang lebih produktif.
Secara garis besar batasan silvikultur menurut Asosiasi Ahli Kehutanan Amerika (Nyland, 2002) adalah :
“Seni untuk membangun dan memelihara tegakan hutan dengan landasan ilmiah untuk mengendalikan pemapanan tegakan, komposisi dan pertumbuhan”
Menggunakan berbagai perlakuan agar hutan menjadi lebih produktif, lebih bermanfaat bagi pengusahaan hutan.  Bermanfaat tidak hanya bagi pengusaha hutan tetapi juga bagi masyarakat sekitar hutan dan masyarakat keseluruhan serta negara, baik generasi masa kini maupun generasi mendatang, secara lestari. Mengintegrasikan konsep ekologi dan ekonomi pada perlakuan yang sangat tepat untuk memenuhi tujuan pengelolaan hutan.
-        Pengertian Sistem Silvikultur
Sistem silvikultur adalah suatu proses yang mencakup tiga tema utama, yaitu
1.     metode permudaan
2.     metoda pemanenan hasil hutan
3.     metoda mengatur tegakan hutan secara keseluruhan, dengan mengacu pada silvikultur, pertimbangan proteksi dan pemanfaatan hasil secara ekonomis.
            Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 11/Menhut-II/2009, sistem silvikultur adalah sistem pemanenan sesuai tapak/tempat tumbuh berdasarkan formasi terbentuknya hutan yaitu proses klimatis dan edafis dan tipe-tipe hutan yang terbentuk dalam rangka pengelolaan hutan lestari atau sistem teknik bercocok tanaman dan memanen.
-        Ruang Lingkup Agroforestri
Pada dasarnya agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan, di mana masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendiri-sendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan. Hanya saja sistem-sistem tersebut umumnya ditujukan pada produksi satu komoditi khas atau kelompok produk yang serupa. Penggabungan tiga komponen tersebut menghasilkan beberapa kemungkinan bentuk kombinasi sebagai berikut:
1.     Agrisilvikultur = Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan (pepohonan, perdu, palem, bambu, dll.) dengan komponen pertanian.
2.     Agropastura = Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan komponen peternakan
3.     Silvopastura = Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan
4.     Agrosilvopastura = Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan
Dari keempat kombinasi tersebut, yang termasuk dalam agroforestri adalah Agrisilvikutur, Silvopastura dan Agrosilvopastura. Sementara agropastura tidak dimasukkan sebagai agroforestri, karena komponen kehutanan atau pepohonan tidak dijumpai dalam kombinasi.
-        Teknik Silvikultur
Teknik silvikultur adalah penggunaan teknik-teknik atau perlakuan tehadap hutan untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas hutan. Perlakuan tersebut dapat dilakukan pada tahap permudaan, pemeliharaan dan penjarangan, serta pemanenan.
Teknik silvikultur menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 11/Menhut-II/2009, antara lain berupa: pemilihan jenis, pemuliaan pohon, penyediaan bibit, manipulasi lingkungan, penanaman dan pemeliharaan.
Teknik silvikultur yang dikembangkan oleh Soekotjo (2009) adalah :
1.     teknik silvikultur tentang pengendalian struktur
2.     teknik silvikultur tentang pengendalian komposisi
3.     teknik silvikultur tentang pengendalian kerapatan tegakan
4.     teknik silvikultur tentang pengendalian pertumbuhan
5.     teknik silvikultur intensif
6.     teknik silvikultur tentang proteksi agar kelestarian produktivitas ekosistem terjamin
7.     teknik silvikultur tentang proteksi terhadap hama dan penyakit
8.     fasilitas pembalakan
9.     Multisistem Silvikultur

-        Pengetian Multisistem Silvikultur
Multisistem silvikultur adalah sistem pengelolaan hutan produksi yang terdiri dari dua atau lebih sistem silvikultur yang diterapkan pada suatu areal pengusahaan hutan dan merupakan multi usaha dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan produksi kayu dan hasil hutan lainnya serta dapat mempertahankan kepastian kawasan hutan produksi.
Multisistem silvikultur diterapkan dalam pengusahaan hutan di Indonesia mengingat keadaan mosaik areal hutan dan kondisi hutan di Indonesia telah mengalamai perubahan yang sangat besar, yakni menjadi sangat beragam dan pada umumnya mengalami perubahan perubahan potensi dan ekologinya. Contoh multisistem silvikultur dalam suatu unit pengusahaan hutan adalah terdapat lebih dari satu system silvikultur yang diterapkan, misalnya TPTI dan TPTII; TPTJ dan THPB; THPA dan THPB Pola Agroforestry.
-        Beberapa Peraturan dan Petunjuk Teknis Mengenai Silvikultur
Sejak mulai diimplementasikannya  pengusahaan hutan di Indonesia sampai dengan saat ini, terdapat beberapa perkembangan peraturan dan petunjuk teknis mengenai silvikultur.  Peraturan-peraturan tersebut adalah:
1.     SK Dirjen Kehutanan no. 35/Kpts/DD/1/1972 ttg Pedoman Tebang Pilih Indonesia, Tebang Habis dengan Permudaan Alam, Tebang Habis dengan Penanaman Buatan, dan Pedoman-pedoman Pengawasannya
2.     SK Menhut no. 485/Kpts-II/1989 tentang sistem silvikultur pengelolaan hutan alam produksi di Indonesia
3.     SK Dirjen PH no. 564/Kpts/IV-BPHH/1989 tentang Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia
4.     SK Menhut no. 252/Kpts-II/1993 tentang Kriteria dan Indikator pengelolaan Hutan Produksi Alam Indonesia secara lestari
5.     SK Dirjen PH no. 151/Kpts/IV-BPHH/1993 tentang Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesiaèdicabut dg Peraturan DirJend Bina Produksi Kehutanan no P.9/VI/BPHA/2009.
6.     SK Menhutbun No. 625/Kpts-II/1998 tentang Sistem TPTJèdicabut dengan Permenhutbun No. 309/Kpts-II/1999; Permenhut No. P.30/Menhut-II/2005
7.     SK Dirjen Bina Produksi Kehutanan No. 226/VI-BPHA/2005 tentang penerapan sistem  TPTIIèdicabut dengan  Peraturan DirJend Bina Produksi Kehutanan no P.9/VI/BPHA/2009
8.     Permenhut No. P.30/Menhut-II/2005 tentang Standar sistem silvikultur pada hutan alam tanah kering atau hutan alam tanah basah/rawaèdicabut dengan Permenhut No. P.11/Menhut-II/2009


















III.            SISTEM SILVIKULTUR

A.    Pengolahan Hutan
Proses pengelolaan hutan agar lestari dengan mengusahakan adanya regenerasi tegakan hutan dapat berlangsung secara alami dan buatan. Proses regenerasi secara buatan melalui pembudidayaan tanaman hutan yang umumnya dipakai dewasa ini adalah dengan pembuatan hutan tanaman, baik secara generatif maupun vegetatif. Permudaan generatif sangat dipengaruhi oleh ketersediaan benih bermutu pada waktu dilakukannya penanaman. Cara yang dapat dilakukan untuk perbanyak tanaman agar dapat memenuhi kebutuhan bibit yang diperlukan tanpa tergantung terhadap ketersediaan benih adalah melalui pembiakan vegetatif. Keuntungan yang dimiliki bahan vegetatif secara garis besar adalah sifat keturunan, alat pembiakan pada tanaman yang bijinya sukar diperoleh atau ditangani, dan proses pendewasaan tanaman. Pembiakan vegetatif dapat secara makro seperti stek, cangkok, okulasi dan lain-lain dan secara mikro yaitu kultur jaringan. Untuk mengatasi masalah penyediaan benih dalam jumlah yang cukup pada waktu yang tepat, harus dilakukan kegiatan permudaan buatan serta mengingat permudaan buatan untuk jenis ini jarang dilakukan. Permudaan buatan untuk jenis ini lebih mudah di lakukan dengan cara pembiakan vegetatif, karena pembiakan secara generatif sangat dipengaruhi oleh ketersediaan benih bermutu di lapangan. Dengan pembiakan vegetatif dapat dihasi lkan bibit dalam jumlah yang cukup pada waktu yang tepat serta kualitasnya sama dengan pohon induk
Tiga hal penting yang menjadi fokus dalam Sistem silvikultur adalah:
-        Metode regerasi dari suatu tegakan yang membentuk hutan
-        Bentuk dari hasil yang akan diproduksi
-        Pengaturan dari pohon-pohon dari suatu tegakan hutan, dimana mengacu pada pertimbangan silvikultur dan perlindungan serta kemudahan dalam pemanenan.


B.    Teknologi Silvikultur
Teknologi silvikultur dirumuskan secara seimbang dengan mempertimbangkan karakteristik ekologi, sosial, ekonomi, teknologi dan pendekatan-pendekatan kelestarian hutan dan lingkungan yang berada di suatu lokasi tertentu. Teknologi silvikultur akan berbeda seiring dengan dinamika kebijakan kehutanan pusat yang mempengaruhi teknologi silvikultur di tingkat unit pengelolaan dan tapak.
Gambar: sistem silvikultur pada hutan sekunder
 tanam padi di hutan
Gambar: sisitem silvikultur, menanam padi ditumpangsari dengan pohon jati


C.    Pengembangan Sistem Sistem Silvikultur di Indonesia
Agroforestri adalah suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan produksi tanaman termasuk tanaman pohon-pohonan dan tanaman hutan dan/atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yang sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat.
Sebagai sebuah model pengelolaan lahan, agroforestri mempunyai implikasi-implikasi positif dalam menjembatani kepentingan masyarakat terhadap hasil lahan jangka pendek dan keperluan pemenuhan produk hutan jangka panjang. Agroforestri juga mampu meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan, menunjang keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan dan meningkatkan fungsi ekologis hutan.
Pengembangan Agroforestri di Indonesia dilaksanakan di dalam kawasan hutan dan lahan-lahan milik rakyat di luar kawasan hutan negara pada daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan Agroforestri dan daerah rawan pangan di Kabupaten/Kota. Agroforestri diwujudkan dalam bentuk Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Rakyat.
Beberapa implikasi terkait penerapan agroforestri sebagai suatu teknologi silvikultur:
1.     Kombinasi tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak/ikan, merupakan jembatan bagi pemenuhan berbagai kepentingan terkait penggunaan lahan.
2.     Pada skala unit lahan kelola pengaturan kombinasi jenis pada agroforestri dilakukan untuk memberikan solusi bagi berbagai permasalahan seperti menekan permasalahan sosial dan peningkatan produktifitas lahan.
3.     Kombinasi jenis pada sistem agroforestri dapat dilakukan pada sekala lansekap dimana pengaturan jenis dilakukan pada mozaik-mozaik. Masing-masing mozaik memiliki kerapatan dan fungsi tertentu. Kombinasi jenis seperti ini cukup efektif dalam meningkatkan kelestarian tumbuhan dan satwa disamping tetap meningkatkan produktifitas lahan-lahan pertanian di dalamnya.

Perlu menjadi bahan pemikiran bersama bahwa ketika masyarakat menjadi pengelola hutan dan teknologi agoforestry dijadikan sebagai teknologi silvikulturnya, maka beberapa hal perlu diperhatikan:
1.     Nuansa ekonomi kerakyatan harus menjiwai pengelolaan hutan oleh masyarakat. Luas lahan kelola masyarakat perlu dibatasi baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Hasil kajian di Pulau Lombok menunjukan bahwa luasan 2 - 5 ha per orang adalah luasan optimal yang mampu dikelola oleh satu kepala keluarga yang memberikan keuntungan yang cukup menguntungkan secara ekonomi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang sesuai keterbatasan kemampuan permodalan, teknologi dan tenaga kerja yang dimilikinya. Ketika masyarakat berkumpul dalam satu kelembagaan usaha, maka luasan total lahan kelola perlu dihitung berdasarkan luasan minimal dikalikan jumlah anggota kelompok. Ketika luasan lahan tidak dibatasi, maka akan membuka peluang masuknya para pemilik modal yang mengatasnamakan masyarakat dan masyarakat miskin akan kembali tersingkirkan. Nuansa ekonomi kerakyatan juga diwujudkan dengan pemantapan kelembagaan sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Adopsi pranata sosial dalam penerapan penghargaan, sangsi dan aturan-aturan pengelolaan lahan dan bagaimana masyarakat menumbuhkan usaha ekonominya perlu dilakukan.
2.     Pembinaan kelembagaan lokal, pendampingan dan fasilitasi usaha perlu diberikan hingga pada suatu kondisi dimana masyarakat secara kelompok mampu mandiri mengelola hutan.
3.     Input teknologi tepat guna perlu terus dikembangkan dan diintroduksikan dalam pengelolaan hutan oleh masyarakat untuk mendukung peningkatan produktifitas lahan dan pendapatan masyarakat. Penggunaan bahan-bahan kimia dalam budidaya tanaman semusim sejauh mungkin dihindari. Pengembangan teknik-teknik konservasi tanah dan air yang mampu meningkatkan produktifitas lahan dan pendapatan petani pada tiap unit lahan kelola yang sempit dan dengan input biaya yang rendah perlu mendapatkan perhatian khusus.
4.     Pengelolaan hutan oleh masyarakat sangat mungkin akan menyebabkan hutan terbagi dalam luasan-luasan kelola yang sangat sempit. Dengan demikian penataan setiap mozaik kecil lahan kelola perlu dilakukan untuk menekan seminimal mungkin fragmentasi hutan dalam sekala luas dan mengarahkan komposisi dan struktur jenis yang dikembangkan oleh masyarakat dalam batas yang mendukung kestabilan lahan dalam menahan erosi dan kelestarian siklus hidrologi dalam bentangan lahan yang luas.
5.     Masyarakat sebagai pengelola hutan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan para pengelola hutan lain yang bergerak dalam skala besar. Berbagai aturan pengelolaan hutan perlu diterapkan. Dalam hal ini keharusan adanya areal konservasi, daerah perlindungan sumber-sumber air, perlindungan tebing, tata aturan terkait administrasi pemasaran, peredaran hasil hutan, perlindungan hutan dan aturan lainnya tetap diberlakukan. Penerapan hak dan kewajiban yang sama akan menumbuhkan profesionalisme pengelolaan hutan di tingkat petani yang bukan mustahil akan menjadi pendorong cikal bakal perubahan paradigma silvikultur hutan tropis nasional dari menekankan usaha dengan padat modal dan teknologi tinggi yang diadopsi dari sistem dan metode silvikultur negara-negara maju menuju paradigma baru pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat yang padat karya dan pro kemakmuran bagi rakyat.
Agroforestri sebagai sebuah solusi teknologi silvikultur perlu dirumuskan penerapannya terkait dengan telah dibukanya akses yang cukup besar bagi masyarakat secara kelompok untuk mengelola hutan secara langsung. Perlu kehati-hatian dalam menjadikan agroforestri sebagai sebuah teknologi silvikultur dalam hal mempertahankan nilai-nilai luhur kearifan pengelolaan lahan oleh masyarakat, mengatasi rendahnya kesiapan masyarakat secara kelembagaan, ekonomi dan teknologi dalam pengelolaan hutan serta mengatasi tingginya peluang fragmentasi hutan dalam luasan yang lebih kecil.
silvikultur
Gambar: Pembudidayaan tanaman hutan
Agroforestri sebagai teknologi silvikultur juga harus mampu menumbuhkan iklim yang sehat dalam berbagi keuntungan, tanggung jawab dan pengelolaan hutan. Pengelolaan hutan oleh masyarakat melalui agroforestri seharusnya juga merupakan wujud perkuatan ekonomi nasional. Keseriusan semua pihak dalam pengembangan agroforestri sebagai suatu teknologi silvikultur sangat penting untuk mewujudkan nilai-nilai lebih dan implikasi-implikasi positif penerapan teknologi agroforestri dalam pengelolaan hutan tropis di Indonesia.
Agroforestri membawa paradigma baru pengelolaan hutan dimana penumbuhan ekonomi masyarakat dan kelestarian hutan pada unit tapak akan memberikan dampak pada penumbuhan ekonomi dan kelestarian hutan secara nasional. Paradigma ini menggantikan paradigma lama pengelolaan hutan nasional yang menekankan pertumbuhan yang pesat dari usaha sekala besar untuk membantu tumbuhnya usaha-usaha sekala kecil. Pertanyaan besar apakah paradigma baru tersebut akan lebih berhasil daripada paradigma lama yang terbukti memiliki banyak kelemahan? Keseriusan dalam menjadikan agroforestri sebagai suatu solusi teknologi silvikultur nasional akan menjadi kunci keberhasilan implementasinya.
Contoh gambar hasil hutan:
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQMTtUsOopRmEQIuTNQQ3rwUTzHqmE5QgHxBVWrzqSruii9mwbS  http://1.bp.blogspot.com/-KskztvT3WJc/UU55hmOUP0I/AAAAAAAABEA/i4hweUiVbj8/s1600/MADU.jpg
Gambar: rotan dan lebah madu

Gambar: getah gaharu
 
http://gaharuwangi.files.wordpress.com/2011/11/gah1.jpg 












IV.            PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Sistem silvikultur adalah sistem pemanenan sesuai tapak/tempat tumbuh berdasarkan formasi terbentuknya hutan yaitu proses klimatis dan edafis dan tipe-tipe hutan yang terbentuk dalam rangka pengelolaan hutan lestari atau sistem teknik bercocok tanaman dan memanen. Sistem silvikultur adalah suatu proses yang mencakup tiga tema utama, yaitu; 1.metode permudaan, 2. metoda pemanenan hasil hutan, 3. metoda mengatur tegakan hutan secara keseluruhan, dengan mengacu pada silvikultur, pertimbangan proteksi dan pemanfaatan hasil secara ekonomis.
Silvikultur atau budidaya hutan adalah salah satu bentuk pengusahaan lahan hutan. Dalam silvikultur, tanaman komoditas kehutanan dipelihara secara semi-intensif untuk kelak diambil hasilnya. Hasil silvikultur dapat berupa kayu maupun hasil lainnya yang bernilai ekonomi, seperti getah (damar atau cairan lain), pepagan, potongan kayu, rempah-rempah dalam bentuk bunga atau buah, atau madu hutan.

B.    SARAN
Sistem silvikultur merupakan suatu cara yang dapat digunakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keperluan hidup manusia akan sumber daya alam, pangan dan papan. Oleh karena itu pengembangan ilmu dan metode yang mengarah pada sistem silvikultur nantinya sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia dan kelestarian kehidupan makhluk hidup.





DAFTAR PUSTAKA

Daniel T. W,  J.A. Helms and F.S. Baker, 1992.  Prinsip-Prinsip Silvikultur (Terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Soetrisno K. Silvikulur. Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda.
Benyamin Lakitan, 2000. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo.
Dephutbun, 1998a. Penataan Ulang Penguasaan Lahan dan Pengusahaan Hutan Skala Besar dalam Rangka Redistribusi Manfaat Sumber Daya . Jakarta.
Ditjenbun, 1998. Laporan Pelaksanaan dan Penilaian Perkebunan Inti Raktyat. Jakarta.
Kartodihardjo H. A. Supriono, 2000. Dampak Pembangunan Sektoral Terhadap Konversi dan Degradasi Hutan Alam: Kasus Pembangunan HTI dan Perkebunan di Indonesia. CIFOR, Bogor, Indonesia.
Reijntjes, C., Haverkort B., Bayer. W., 1999. Pertanian Masa Depan. Pengantar untuk pertanian berkelanjutan dengan input luar rendah. Penerbit Kanisius.
Satjapradja, O. 1982. Agroforestri di Indonesia. Suatu usdaha terpadu antara kehutanan dan Budidaya pertanian lainnya. Journal Penelitian dan Pengembangan Pertanian.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KALANGKABUT